Budaya dan Tradisi Masyrakat Maluku

Budaya dan Tradisi Masyrakat Maluku

Budaya dan Tradisi Masyrakat Maluku

Budaya dan Tradisi Masyrakat Maluku, – Maluku adalah daerah kepulauan yang penuh dengan sejuta pesona dan keindahannya. Selain memiliki keindahan sumber daya alamnya, Maluku juga memiliki budaya-budaya leluhur yang masih dipertahankan keberadaanya hingga saat ini. Budaya sendiri adalah sebuah aspek kehidupan yang mencakup kepercayaan, kebiasaan, seni, dan adat istiadat yang dijalani oleh masyarakat Maluku.

Suku bangsa Maluku didominasi oleh ras suku bangsa Melanesia Pasifik, yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga, dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik.Banyak bukti kuat yang merujuk bahwa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa bangsa kepulauan pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik khas, contoh: Ukulele (yang terdapat pula dalam tradisi budaya Hawaii).

Melansir https://slot-online.games/, Maluku memiliki beragam budaya dan tradisi yang sudah ada sejak dulu dan masih dijaga dengan sangat baik dan bahkan dilestarikan keberadaanya oleh masyarakat Maluku.

Budaya Arumbae

Arumbae adalah simbol dari budaya orang-orang Maluku yang senang berlayar karena sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, Budaya Arumbae juga menjadi simbol dari masyarakat Maluku yang dinamis dan memiliki daya juang yang tinggi dalam menghadapi tantangan guna menyongsong masa depan yang gemilang.

Arumbae berasal dari perjuangan leluhur melewati perjuangan panjang yang sulit di tengah lautan. Di Maluku, Arumbae memiliki makna sebagai sebuah perahu/kapal yang di dalamnya terdapat lima orang sedang bejuang mendayung serta menghadapi tantangan di lautan lepas. Sedangkan Arumbae adalah bahasa Maluku untuk perahu.

Saat ini, Arumbae telah ditempatkan diberbagai karya seni dan budaya, contohnya pada lagu-lagu daerah, syair, bangunan, dan olahraga. Dalam bidang olahraga, Arumbae dilestarikan sebagai lomba mendayung yang dinamai dengan “Arumbae manggurebe.” Arumbae Manggurebe selain menjadi olahraga tahunan yang diselenggarakan di Teluk Ambon, juga menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Budaya Makan Patita

Makan Patita adalah kebudayaan yang sampai saat ini masih dilestarikan dengan baik oleh Masyarakt Maluku. Makan Patita adalah sebuah kegiatan makan besar di mana semua masyarakat secara bersama-sama menikmati makanan yang tersedia di atas meja atau daun pisang yang disusun memanjang.

Patita biasanya diadakan pada perayaan hari-hari penting seperti HUT-RI, HUT KOTA, pelantikan kepala daerah, pesta rakyat, dan lain-lain. Menu makanan yang tersedia di Makan Patita biasanya berasal dari Maluku seperti ikan asar, kohu-kohu, ubi-ubian rebus, gudangan, dan lain sebagainya.

Makanan-makanan tersebut akan disajikan dalam jumlah banyak, sehingga seluruh peserta acara dapat secara merata mendapatkan bagiannya. Makan Patita biasanya dilakukan pada area terbuka, seperti lapangan, jalan, pesisir pantai, atau lain sebagainya.

Tradisi Pukul Sapu (Manyapu)

Tradisi Pukul Sapu (Manyapu) adalah sebuh tradisi yang diadakan setiap tahun oleh masyarakat Mamala dan Morela, Ambon, Maluku. Pukul Manyapu adalah kegiatan di mana beberapa pemuda saling memukul menggunakan sapu lidi atau sapu ijuk hingga luka. Dan pada akhirnya luka sabetan lidi diobati dengan minyak mamala.

Tradisi Pukul Sapu diadakan setiap tanggal 7 Syawal dalam penanggalan Islam atau Hari Raya Idul Fitri. Tradisi pukul menyapu sebenarnya berkisah tentang khasiat dan kegunaan minyak mamala yang dipercaya sangat ampuh menyembuhkan segala jenis luka.

Berawal dari sejarah patahnya tiang masjid yang berhasil disambung kembali menggunakan minyak mamala pada abad ke-16. Hal ini membuat leluhur menjadi penasaran dengan khasiat dari minyak mamala. Hingga akhirnya, mereka membuat semacam percobaan dengan memerintahkan dua orang pemuda saling memukul menggunakan lidi.

Kemudian, leluhur mengolesi minyak mamala pada luka kedua pemuda tersebut, hal yang terjadi adalah luka tersebut sembuh tanpa menimbulkan bekas. Kegiatan inilah yang menjadi sumber dari keberadaan tradisi tahunan Pukul Manyapu saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *